Utang Luar Negeri RI Februari 2026 Mencapai US$437,9 Miliar karena Faktor Ini

Jakarta – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa total utang luar negeri (ULN) Indonesia telah meningkat menjadi US$437,9 miliar pada Februari 2026. Hal ini menjadikan rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 29,8 persen.
Direktur Departemen Komunikasi BI, Anton Pitono, dalam pernyataan resminya yang disampaikan di Jakarta pada Rabu, 15 April 2026, mengungkapkan bahwa pertumbuhan posisi ULN ini didorong terutama oleh utang sektor publik, khususnya yang terkait dengan bank sentral. Peningkatan ini seiring dengan aliran modal asing yang masuk ke dalam Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Dibandingkan dengan bulan sebelumnya, posisi ULN pada Februari 2026 mengalami kenaikan dari US$434,9 miliar. Secara tahunan, ULN pada bulan ini tumbuh sebesar 2,5 persen (year on year/yoy), yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan di bulan sebelumnya yang tercatat 1,7 persen (yoy).
Pada Februari 2026, total utang pemerintah tercatat sebesar US$215,9 miliar, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 5,5 persen (yoy), meskipun sedikit lebih rendah dari 5,6 persen (yoy) pada bulan sebelumnya. Perkembangan ini dipengaruhi oleh penurunan nilai posisi surat utang.
Dalam analisis berdasarkan sektor ekonomi, penggunaan ULN pemerintah sebagian besar dialokasikan untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22,0 persen dari total ULN pemerintah); administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (20,3 persen); jasa pendidikan (16,2 persen); konstruksi (11,6 persen); serta transportasi dan pergudangan (8,5 persen).
Utang pemerintah didominasi oleh utang jangka panjang yang mencakup 99,98 persen dari total ULN pemerintah. Sementara itu, peningkatan utang Bank Indonesia terutama disebabkan oleh peningkatan kepemilikan instrumen moneter yang diterbitkan oleh bank sentral oleh non-residen, yang sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
Di sisi lain, posisi ULN swasta pada Februari 2026 mencapai US$193,7 miliar, yang menunjukkan penurunan tahunan sebesar 0,7 persen (yoy). Perkembangan ini dipengaruhi oleh kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) dan perusahaan non-lembaga keuangan (nonfinancial corporations) yang masing-masing tercatat turun 2,8 persen (yoy) dan 0,2 persen (yoy).
Dari segi sektor ekonomi, sebagian besar ULN swasta berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian, dengan kontribusi mencapai 80,3 persen terhadap total ULN swasta. Seperti halnya utang pemerintah, utang swasta juga didominasi oleh utang jangka panjang, yang mencakup 76,0 persen dari total ULN swasta.
➡️ Baca Juga: Korsel dan Prancis Sepakati Langkah Strategis untuk Keamanan Jalur Selat Hormuz
➡️ Baca Juga: Rahasia Latihan Fisik Atlet Badminton Profesional Untuk Meningkatkan Stamina Dan Kecepatan Kaki



