Tingkatkan Produksi Migas dan Kembangkan Ekosistem Industri Baterai Nikel di Indonesia

Jakarta – Ikatan Alumni Geologi Institut Teknologi Bandung (IAGL ITB) mengajak pemerintah untuk memprioritaskan peningkatan produksi migas (lifting). Dorongan ini muncul di tengah situasi geopolitik global yang semakin kompleks dan menegangkan.
Pemerintah juga didorong untuk menjadikan batubara dan nikel sebagai pilar utama dalam sektor energi. Selain itu, pentingnya kolaborasi yang sinergis antara akademisi, pemerintah, dan sektor industri perlu dimaksimalkan guna mendukung tercapainya kedaulatan dan kemandirian energi nasional.
Ketua Umum IAGL ITB, Abdul Bari, mengemukakan bahwa peningkatan lifting bisa dicapai melalui pemberian insentif fiskal yang menarik serta penguatan aspek pengawasan dan tata kelola yang baik.
Selanjutnya, pemerintah diharapkan dapat menyederhanakan regulasi dan kontrak kerja sama. Peningkatan koordinasi yang terpadu antar kementerian dan lembaga juga menjadi kunci untuk mempercepat realisasi produksi migas.
Abdul Bari menekankan bahwa defisit energi saat ini sangat mengkhawatirkan. Kebutuhan minyak bumi nasional mencapai 1,7 juta barrel per hari, namun produksi harian hanya mampu memenuhi sekitar 605.000 barrel. Situasi ini semakin diperburuk oleh ketidakstabilan geopolitik yang mengganggu rantai pasok minyak bumi secara global.
“Jika ketegangan geopolitik terus berlanjut, prediksi menunjukkan bahwa defisit energi ini akan semakin membebani perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, langkah-langkah strategis dan penguatan kerja sama antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri sangat diperlukan agar kebijakan yang diambil dapat fokus dan efektif dalam menghadapi tantangan ketidakstabilan energi nasional,” ungkap Bari saat seminar nasional mengenai dinamika geopolitik dan industri pertambangan, minyak, dan gas bumi di Gedung Antam, pada tanggal 25 April 2026.
Dalam rangka mengantisipasi kondisi siaga energi di tanah air, IAGL ITB mendorong pemerintah untuk melakukan eksplorasi migas secara agresif dan efektif. Hal ini sangat penting untuk memperkuat cadangan energi nasional dan menjamin keberlanjutan produksi dalam jangka menengah hingga panjang.
Bari menambahkan, “Rekomendasi kami meliputi peningkatan lifting minyak melalui insentif fiskal bagi perusahaan-perusahaan minyak untuk mendorong eksplorasi yang lebih agresif. Selain itu, hilirisasi batubara harus menjadi langkah yang wajib, mengingat pentingnya beralih ke sumber energi yang dimiliki sendiri. Begitu pula dengan nikel, yang berperan penting sebagai penyimpanan untuk kendaraan listrik (EV), sehingga mempercepat kemandirian dan kedaulatan energi nasional.”
➡️ Baca Juga: Erick Thohir Mengapresiasi Veda Ega yang Mencetak Sejarah di Moto3 Brasil
➡️ Baca Juga: Kepala BPOM Ungkap Lonjakan Drastis Penyalahgunaan Ketamin dari 2022 hingga 2024




