Trump Tekankan Keinginan Ganti Rezim Khamenei, Menlu Iran Sebut Misi Mustahil

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan pada hari Sabtu bahwa pemimpin tertinggi negara tersebut, Ayatollah Ali Khamenei, masih hidup “sejauh yang saya ketahui,” dalam sebuah wawancara dengan NBC News.
Dia menambahkan, “Hampir semua pejabat masih dalam keadaan sehat dan aman. Kami mungkin kehilangan satu atau dua komandan, tetapi itu bukanlah masalah yang signifikan.”
Ketika ditanya mengenai pernyataan Presiden AS Donald Trump yang direkam sebelumnya setelah serangan tersebut, Araghchi menanggapi bahwa upaya untuk mengganti rezim di Iran adalah “misi yang mustahil.”
“Perubahan rezim tidak dapat dilakukan ketika jutaan orang masih mendukung pemerintah yang ada,” ujarnya, sembari menekankan bahwa Teheran “pastinya ingin mengurangi ketegangan.”
Araghchi juga mengungkapkan bahwa saat ini tidak ada komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat. “Namun, jika Amerika ingin berdialog dengan kami, mereka tahu cara untuk melakukannya,” tegasnya.
Dalam beberapa minggu terakhir, Presiden Donald Trump telah menunjukkan ketertarikan AS untuk melihat adanya perubahan rezim di Iran, tetapi belum memberikan rincian mengenai siapa yang akan memimpin negara tersebut.
Dalam pidatonya pada pagi hari Sabtu, Trump menyebut Teheran sebagai “rezim teroris” dan mendorong rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan, dengan menyatakan bahwa serangan militer AS akan membuka peluang bagi pemberontakan.
Pada hari yang sama, Kementerian Pertahanan Israel mengumumkan bahwa mereka telah meluncurkan serangan terhadap Iran dan menetapkan status darurat di seluruh wilayahnya.
Tidak lama setelahnya, Amerika Serikat juga melaksanakan serangan terhadap beberapa target Iran dari udara dan laut, menurut laporan Reuters yang mengutip seorang pejabat AS.
Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi bahwa mereka telah meluncurkan gelombang pertama serangan roket ke arah Israel. Teheran meluncurkan rudal dan drone sebagai respons terhadap agresi yang dilakukan oleh rezim Zionis.
Serangan balasan dari Iran juga menargetkan berbagai pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah, termasuk di negara-negara seperti Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
➡️ Baca Juga: Perang Siber: Ancaman yang Mengubah Lanskap Keamanan
➡️ Baca Juga: Ekonomi Rusia Hari Ini: Perkembangan Terkini