Perang Pengaruhi Industri Matcha Jepang: Ekspor Meningkat, Ekspansi Terkendala

Jakarta – Konflik yang berlangsung di Timur Tengah mulai memberikan dampak pada industri teh Jepang, khususnya dalam segmen produk matcha. Meskipun permintaan global terhadap matcha tetap tinggi dan angka ekspor terus mengalami peningkatan, para pelaku bisnis kini harus menghadapi sejumlah rintangan dalam memperluas usaha mereka serta dalam hal pasokan energi.
Salah satu dampak yang dapat dirasakan secara langsung adalah penundaan rencana pembukaan kafe atau toko matcha di wilayah Timur Tengah. Namun, dari aspek produksi, pengadaan bahan baku masih berjalan lancar tanpa gangguan yang berarti.
Di tengah tantangan yang ada, performa ekspor menunjukkan tren yang menggembirakan. Pada tahun 2025, nilai ekspor teh hijau Jepang, termasuk matcha, mencapai ¥72,1 miliar, yang setara dengan Rp7,71 triliun berdasarkan kurs Rp107 per yen. Angka ini mencerminkan pertumbuhan tahunan tertinggi jika dibandingkan dengan komoditas pertanian, kehutanan, dan perikanan lainnya.
Kenaikan yang signifikan ini mencerminkan tingginya minat pasar internasional terhadap produk matcha. Permintaan yang terus melonjak memberikan peluang besar bagi Jepang untuk memperluas pangsa pasar di tingkat global.
Namun, di balik potensi yang terbuka, pelaku industri mulai merasakan kekhawatiran baru terkait pasokan energi. Ketegangan yang terjadi di Timur Tengah dapat mengganggu distribusi bahan bakar minyak yang sangat dibutuhkan dalam proses produksi teh.
Pada periode antara April dan Juni, para produsen memerlukan pasokan bahan bakar yang besar, terutama untuk proses pengeringan daun teh setelah panen. Jika terjadi gangguan pada pasokan energi ini, hal tersebut dapat berimbas langsung pada produksi dan kualitas teh yang dihasilkan.
Menteri Pertanian Jepang, Norikazu Suzuki, menekankan pentingnya menjaga stabilitas pasokan energi untuk mendukung keberlanjutan industri. Ia menyatakan, “Kita harus menciptakan kondisi di mana pasokan bahan bakar minyak yang cukup dapat terjamin,” sebagaimana dilaporkan oleh The Jalan Times pada Senin, 13 April 2026.
Ke depan, industri teh Jepang akan menghadapi dua tantangan besar, yaitu mempertahankan momentum ekspor yang sedang meningkat dan memastikan kelancaran dalam proses produksi di tengah risiko gangguan pasokan energi.
Jika konflik yang berlangsung berkepanjangan, tekanan terhadap ekspansi bisnis dan operasional diperkirakan akan semakin meningkat, meskipun permintaan global terhadap matcha tetap kuat.
➡️ Baca Juga: Cara Menjaga Kesehatan Kuku Agar Tetap Kuat dan Terhindar Dari Infeksi
➡️ Baca Juga: 50 Aplikasi Sistem Diuji: Samsung vs Pixel Siapa Lebih Bloat?




