Mesin Cuci Darah Alami: Dampak Bekam pada Tubuh Menurut Zaidul Akbar

Jakarta – Bekam telah lama dianggap sebagai salah satu metode penyembuhan tradisional yang diyakini mampu membantu mengatasi berbagai masalah kesehatan. Dengan meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap pola hidup sehat yang lebih alami, terapi ini kembali menarik perhatian, terutama setelah penjelasan yang diberikan oleh Zaidul Akbar mengenai mekanisme yang terjadi di dalam tubuh saat proses bekam berlangsung.
Zaidul Akbar mengungkapkan bahwa untuk memahami cara kerja bekam, penting bagi masyarakat untuk melihat tubuh manusia sebagai sebuah sistem yang rumit. Ia menggunakan analogi yang mudah dipahami dengan membandingkan tubuh dengan sebuah bangunan untuk menjelaskan bagaimana tubuh merespons rangsangan yang diterima.
“Jika hanya ada sedikit api di depan pintu, apakah pemadam kebakaran akan datang? Tentu tidak, karena itu dianggap terlalu kecil. Namun, jika kita berteriak ada ancaman besar, maka seluruh tim, termasuk unit anti-teror, akan segera dikerahkan,” ungkap dr. Zaidul Akbar dalam video di saluran resminya pada 9 April 2026.
Melalui analogi tersebut, ia menekankan bahwa tubuh tidak selalu memberikan respons yang signifikan terhadap rangsangan kecil. Dalam konteks terapi bekam, terdapat proses luka kecil pada permukaan kulit yang justru berfungsi sebagai sinyal penting bagi tubuh. Luka-luka kecil ini mengirimkan pesan ke otak bahwa ada kondisi tertentu yang memerlukan perhatian segera.
“Luka-luka kecil ini mengirimkan sinyal ke pusat otak kita untuk segera memobilisasi sistem kekebalan tubuh yang terbaik,” tambahnya.
Saat proses bekam dilakukan, darah yang mengalir bukanlah sekadar cairan biasa. Tubuh secara otomatis bereaksi dengan mengaktifkan sistem pertahanan, termasuk menggerakkan sel-sel imun untuk memperbaiki jaringan yang terdampak. Respons ini tidak hanya bersifat lokal, melainkan juga melibatkan sistem tubuh secara keseluruhan.
Menariknya, Zaidul Akbar menyatakan bahwa terapi bekam dapat memicu aktivasi sistem imun dalam skala yang lebih besar, bahkan melibatkan sel-sel yang biasanya hanya diaktifkan dalam kondisi penyakit serius.
“Bekam dapat memicu keluarnya pasukan imun kelas berat yang biasanya hanya aktif saat menghadapi penyakit berat seperti HIV/AIDS,” jelasnya.
Meskipun demikian, ia menekankan bahwa keberhasilan terapi bekam tidak ditentukan oleh jumlah darah yang dikeluarkan. Justru, yang paling penting adalah sinyal biologis yang dikirimkan ke otak untuk memicu respons yang optimal.
➡️ Baca Juga: Rest Area Tol Cipali Terapkan Sistem Buka-Tutup Sesuai Situasi Arus Balik
➡️ Baca Juga: Inovasi dalam Sistem Transportasi Cerdas




