Iran Mendesak Negara-Negara Regional untuk Usir Pasukan AS yang Jadi Biang Kerok Masalah

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah meminta bantuan dari negara-negara di kawasan untuk menjaga keamanan Selat Hormuz. Hal ini disampaikan dengan alasan bahwa upaya keamanan yang dipimpin oleh Washington telah gagal dalam mencegah terjadinya konflik di wilayah tersebut.
Dalam sebuah unggahan di platform media sosial X, Araghchi menegaskan bahwa kerangka keamanan yang dibangun oleh AS di kawasan terbukti memiliki banyak kekurangan, bahkan lebih sering menimbulkan masalah ketimbang menyelesaikannya.
Ia menambahkan bahwa Washington bahkan telah meminta bantuan dari negara lain, termasuk China, untuk berkontribusi dalam menjaga keamanan di Selat Hormuz, yang merupakan rute penting bagi pengiriman sebagian besar minyak dunia.
Araghchi juga menyerukan kepada negara-negara tetangga untuk mengusir “agresor asing,” dengan menyatakan bahwa Israel menjadi satu-satunya kekhawatiran bagi mereka.
Sejak sekitar 1 Maret 2026, Iran secara efektif telah menutup akses ke Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS dan Israel. Penutupan ini telah berdampak pada pengiriman melalui selat tersebut, yang pada gilirannya menyebabkan lonjakan harga minyak dan pupuk global, serta meningkatkan kekhawatiran tentang ketersediaan energi.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa negara-negara yang menerima minyak melalui jalur strategis tersebut harus bertanggung jawab untuk mengamankan rute maritim utama itu, dengan penegasan bahwa AS akan memberikan dukungan.
Sebelumnya, Trump juga menyatakan bahwa pengawalan oleh Angkatan Laut AS terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz dapat dimulai “dalam waktu dekat.”
Dalam wawancara dengan stasiun televisi AS, MS Now TV, Araghchi menegaskan bahwa jalur air tersebut tetap “terbuka” bagi kapal-kapal yang bukan berasal dari AS, Israel, atau sekutunya. Ia menambahkan, “Kapal-kapal lain bebas melintas.”
Ketegangan di kawasan meningkat setelah serangan gabungan yang diluncurkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut mengakibatkan lebih dari 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, kehilangan nyawa.
Iran telah merespon dengan melancarkan serangan menggunakan drone dan rudal yang menyasar Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang memiliki aset militer AS. Tindakan ini menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan.
➡️ Baca Juga: Membangun Infrastruktur & Digitalisasi SDM di Sekolah
➡️ Baca Juga: Iran Menuduh Trump Memperkeruh Hubungan AS dalam Konflik Netanyahu dan ‘Israel First




