Indonesia Harus Siap Menghadapi Era Baru Perang Siber untuk Mempertahankan Keamanan Nasional

Perusahaan keamanan siber Kaspersky mengidentifikasi Indonesia sebagai pasar prioritas, yang tercermin dari pertumbuhan positif dalam kinerja bisnis dengan kenaikan penjualan mencapai 3 persen dari tahun ke tahun (YoY).
Segmen B2C (business to consumer) menunjukkan hasil yang mengesankan dengan pertumbuhan sebesar 48 persen YoY. Perkembangan lanskap ancaman siber yang terus berubah secara langsung mempengaruhi organisasi dalam berbagai aspek.
Ancaman yang muncul dapat menyebabkan gangguan operasional, pelanggaran data, kerugian finansial, serta kerusakan reputasi organisasi. Serangan siber kini semakin canggih, termasuk di dalamnya Ancaman Berkelanjutan Tingkat Lanjut (Advanced Persistent Threats/APT), serangan yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), serta eksploitasi perangkat seluler.
Dalam konteks ini, organisasi harus menghadapi risiko serangan yang semakin tinggi, sehingga diperlukan pergeseran dari pendekatan keamanan yang bersifat reaktif menjadi strategi proaktif berbasis intelijen. Salah satu langkah strategis yang dapat diambil adalah membangun Pusat Operasi Keamanan (Security Operations Center/SOC).
SOC berfungsi sebagai unit dalam organisasi yang bertanggung jawab untuk memantau dan melindungi infrastruktur TI perusahaan secara berkelanjutan. Misi utama SOC adalah mendeteksi, menganalisis, dan merespons ancaman keamanan siber secara proaktif.
Data terkini dari Kaspersky menunjukkan bahwa lebih dari setengah (58 persen) pemimpin dan pengambil keputusan TI di Indonesia berpendapat bahwa pembangunan SOC dapat meningkatkan tingkat keamanan siber organisasi mereka.
Lebih lanjut, 65 persen perusahaan di Indonesia mengakui rencana untuk meningkatkan SOC mereka dengan memanfaatkan kecerdasan buatan, sementara 53 persen menyatakan bahwa peningkatan efektivitas dalam mendeteksi ancaman siber adalah alasan utama bagi mereka untuk berinvestasi dalam teknologi AI.
Studi Kaspersky juga mengungkap beberapa tantangan yang dihadapi, di antaranya 47 persen perusahaan mengalami kekurangan data pelatihan berkualitas tinggi, 37 persen mengalami kesulitan dalam menemukan spesialis AI yang kompeten di tim internal mereka, dan 29 persen mengeluhkan kurangnya solusi yang sesuai di pasar.
Menurut Defi Nofitra, Country Manager Kaspersky Indonesia, dengan meningkatnya ancaman siber yang menargetkan berbagai perusahaan di Indonesia, baik dari segi jumlah maupun kompleksitasnya, organisasi tidak dapat lagi mengandalkan sistem keamanan yang terfragmentasi.
Ia menekankan bahwa SOC yang terintegrasi, didukung oleh sistem manajemen informasi dan kejadian keamanan (SIEM) serta intelijen ancaman secara real-time, menjadi sangat penting untuk memungkinkan deteksi ancaman yang lebih awal, respons insiden yang cepat, dan menjaga keberlangsungan pertahanan bisnis.
“Dengan penerapan SOC terintegrasi, kami menegaskan kembali komitmen kami untuk memperkuat ketahanan siber Indonesia dan melindungi aset digital di tengah lanskap ancaman yang semakin dinamis,” ungkap Defi Nofitra di Jakarta, Rabu, 8 April 2026.
➡️ Baca Juga: Rencana Pemerintah untuk Meningkatkan Infrastruktur Transportasi
➡️ Baca Juga: Doa Lailatul Qadar dalam Arab Latin dan Artinya: Amalan Penting 10 Hari Terakhir Ramadhan




