Dampak Perang Iran dan Israel-AS Terhadap Lonjakan Harga BBM yang Signifikan

Lonjakan harga energi kembali menjadi sorotan di pasar global setelah terjadinya konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Ketegangan ini mengakibatkan gangguan pada produksi dan distribusi minyak di seluruh dunia. Masyarakat di AS mulai merasakan dampak langsung dari situasi ini melalui kenaikan harga bahan bakar di pompa bensin.
Situasi yang berkembang berpotensi memberikan tekanan lebih lanjut pada perekonomian AS. Sebelum konflik, isu biaya hidup sudah menjadi salah satu kekhawatiran utama warganya. Kenaikan harga energi dapat menambah beban pengeluaran rumah tangga, sehingga semakin memperburuk kondisi yang telah ada sebelumnya.
Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, harga minyak mentah telah meningkat drastis. Sebelum pecahnya perang, harga minyak berada di kisaran US$67 per barel, namun pada hari Senin harga tersebut melonjak hingga hampir mencapai US$97 per barel. Bahkan, pada hari Minggu sebelumnya, harga minyak sempat menembus angka US$100 per barel sebelum mengalami sedikit penurunan.
Kenaikan harga minyak ini disebabkan oleh gangguan dalam produksi dan transportasi energi di salah satu wilayah terkaya sumber daya energi di dunia. Ketegangan geopolitik ini menimbulkan kekhawatiran di pasar internasional mengenai kemungkinan gangguan pasokan minyak yang berkepanjangan.
Lonjakan harga minyak langsung berdampak pada harga bensin di Amerika Serikat. Menurut pelacak harga bahan bakar GasBuddy, rata-rata harga bensin di negara tersebut meningkat sekitar 51 sen per galon dalam satu minggu terakhir.
Kenaikan harga energi juga dapat meningkatkan tekanan politik terhadap pemerintahan Donald Trump. Pemerintah AS sebelumnya sudah menghadapi kritik terkait tingginya biaya hidup, dan kenaikan harga bensin berpotensi memperburuk pandangan publik terhadap pengelolaan ekonomi negara.
Gregory Brew, seorang analis senior yang memantau Iran dan pasar minyak di Eurasia Group, memperkirakan bahwa harga bahan bakar kemungkinan masih akan terus meningkat dalam waktu dekat.
Brew menjelaskan, “Kenaikan harga minyak saat ini mengindikasikan bahwa Amerika Serikat mungkin akan melihat harga bensin berada di kisaran US$3,50 hingga US$4 per galon dalam minggu depan, sementara harga solar bisa mencapai US$5 per galon minggu ini,” ungkapnya, seperti yang dilaporkan oleh Al Jazeera pada Selasa, 10 Maret 2026.
Menurut Brew, dampak dari kenaikan harga energi saat ini kemungkinan lebih terasa di ranah politik dibandingkan ekonomi. Kenaikan harga bensin sering kali memicu pemberitaan negatif dan menambah persepsi bahwa pemerintah tidak mampu mengelola kondisi ekonomi dengan baik.
➡️ Baca Juga: Terkini: Politik Amerika Saat Ini
➡️ Baca Juga: Nanobank Syariah Mendorong Generasi Syariah untuk Mewujudkan Gaya Hidup Finansial Berkelanjutan




