Mengungkap Desain ‘Made in’ AI Melalui Analisis Mendalam yang Objektif

Jakarta – Kecerdasan buatan (AI) telah merombak dan merevolusi berbagai sektor industri di Indonesia. Teknologi ini tidak hanya membuka jalan bagi peluang baru, tetapi juga menghadirkan tantangan yang kompleks yang perlu dihadapi.
Meskipun kemajuan AI sangat pesat dan memberikan kemudahan dalam proses desain serta penyelesaian masalah teknis, teknologi ini belum dapat sepenuhnya menggantikan keahlian manusia.
“Kemampuan manusia untuk menerjemahkan perasaan, budaya, dan pengalaman pribadi yang unik adalah esensi seni yang tidak dapat ditandingi oleh algoritma,” ungkap Cosmas Gozali, seorang arsitek senior dan pendiri PT Arya Cipta Garaha, dalam sebuah acara di Jakarta pada malam hari, 30 April 2026.
Ia juga menekankan pentingnya bagi generasi seniman muda untuk menemukan dan mengembangkan keindahan yang berasal dari hati dan jiwa. Menurutnya, menjadi seorang arsitek adalah tentang merancang bangunan yang tampak sederhana dari luar, tetapi memiliki keindahan yang mendalam dari dalam.
“Saya berharap setiap karya yang indah seharusnya berasal dari kedalaman hati. Oleh karena itu, karya arsitek yang dapat menghasilkan desain yang unik adalah yang memiliki ‘jiwa’ dan emosi. Ini bukan sekadar hasil dari replikasi mesin,” jelasnya.
Cosmas Gozali juga berperan sebagai salah satu juri dalam ajang Daikin Designer Award (DDA) 2026. Kompetisi ini diikuti oleh peserta dari empat negara ASEAN, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina, dan terbuka tidak hanya untuk para profesional, tetapi juga bagi mahasiswa.
Ia mengingatkan semua peserta untuk tidak menggunakan alat AI dalam proses pembuatan desain, karena jika terbukti, mereka tidak akan lolos seleksi.
Lalu, bagaimana cara dia mengetahui apakah desain peserta dihasilkan oleh AI atau tidak?
“Kami melakukan wawancara langsung. Dari situ, kami dapat melihat gestur, tatapan mata peserta, dan apakah mereka benar-benar menjiwai karya mereka. Jika mereka menjiwai, akan ada proses berpikir yang terlihat, dan mereka bisa menjelaskan karya dengan detail yang mungkin tidak terdeteksi oleh juri. Berbeda jika menggunakan teknologi (AI); biasanya, mereka tidak memiliki penguasaan yang sama,” tegasnya.
Setiap kategori peserta yang berpartisipasi dalam DDA 2026 memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing, berdasarkan aplikasi bangunan yang ditawarkan, termasuk bangunan hunian dan komersial di sektor makanan dan minuman. Kompetisi ini tidak hanya terbatas pada karya yang sudah dibangun, tetapi juga mencakup rancangan konseptual desain arsitektur serta desain interior.
➡️ Baca Juga: Maksimalkan Keahlian Digital untuk Meningkatkan Pendapatan dari Jasa Online Profesional
➡️ Baca Juga: Kegiatan Olahraga Bersama di Lingkungan Meningkatkan Kebersamaan




