AP Mengurangi Ratusan Staf, AI Diakui Sebagai Penyebab Utama Perubahan Ini

Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam dunia media telah melampaui fungsi sebagai alat bantu produksi. Kini, teknologi ini digunakan secara agresif oleh perusahaan untuk melakukan restrukturisasi bisnis, termasuk mengurangi jumlah tenaga kerja manusia yang terlibat.
Akibatnya, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di kalangan jurnalis mulai menunjukkan dampak yang signifikan.
Di Amerika Serikat, situasi ini memicu ketegangan serius antara perusahaan media dan pekerjanya. Associated Press (AP) dan ProPublica merupakan contoh terbaru dari bagaimana pemanfaatan AI memicu konflik, mulai dari PHK besar-besaran hingga aksi mogok kerja yang dilakukan oleh para karyawan.
Dilaporkan bahwa AP telah memberikan pemberitahuan PHK kepada sedikitnya 120 jurnalis di AS, di mana sebagian besar dari mereka adalah karyawan yang berpengalaman dan telah lama berkecimpung di industri ini.
Meskipun perusahaan menawarkan skema buyout atau pesangon sebagai solusi, tindakan ini diambil tanpa adanya pemberitahuan atau negosiasi yang memadai dengan serikat pekerja.
Manajemen AP menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari transformasi bisnis yang diperlukan dalam menghadapi perubahan landscape media yang terus berkembang. Perusahaan kini tidak lagi berpegang pada model bisnis tradisional yang berbasis surat kabar.
“Kami bukan lagi perusahaan surat kabar, dan kami telah meninggalkan model tersebut sejak lama,” jelas manajemen dalam pernyataannya yang dilansir dari People’s World.
Pendapatan dari penjualan surat kabar kini hanya menyumbang sekitar 10 persen dari total pendapatan AP, yang mengalami penurunan sebesar 24 persen dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Saat ini, perusahaan lebih mengandalkan pendapatan dari sektor AI, pasar digital, layanan cloud, serta konten visual dan video.
Gelombang PHK yang disebabkan oleh AI ini tidak hanya terjadi di AP saja. Analis finansial dari Goldman Sachs memperkirakan bahwa dampak serupa juga akan melanda banyak perusahaan di seluruh AS.
Mereka mencatat bahwa AI telah menyebabkan antara 5.000 hingga 10.000 PHK setiap bulannya pada tahun lalu. Proyeksi untuk tahun ini menunjukkan bahwa angka tersebut bisa mencapai 16.000 PHK per bulan.
Perusahaan menyebut langkah-langkah ini sebagai “investasi ulang” ke dalam teknologi seperti perangkat lunak, cloud, dan sistem kerja berbasis mesin. Namun, banyak kritik yang muncul di media sosial, menyoroti bahwa tindakan ini justru berisiko mengurangi kualitas jurnalisme yang sangat dibutuhkan oleh publik untuk mendapatkan informasi yang akurat dan independen.
Di tengah tren yang mengkhawatirkan ini, sekitar 150 staf ProPublica mengambil sikap tegas. Mereka melakukan pemungutan suara, di mana 92 persen anggotanya mendukung aksi mogok kerja sebagai respons terhadap kondisi kerja yang tidak memadai serta ancaman yang ditimbulkan oleh penggunaan AI.
➡️ Baca Juga: DPR Menyatakan Teror Air Keras ke Aktivis KontraS Sebagai Peringatan Serius untuk Negara
➡️ Baca Juga: Reza Rahadian Mengalami Perubahan Spiritual, Sering ke Masjid dan Mengungkapkan kepada Ibu




