Malaysia Minta Gedung Kantor Atur Suhu AC 24 Derajat Akibat Krisis Energi

Pemerintah Malaysia telah memutuskan untuk memperketat pengendalian konsumsi energi yang digunakan di gedung-gedung pemerintahan. Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah menetapkan suhu pendingin ruangan (AC) agar tidak melebihi 24 derajat Celsius.
Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap situasi krisis energi yang sedang melanda dunia. Wakil Perdana Menteri Malaysia, Fadillah Yusof, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya nasional untuk menghemat penggunaan energi.
“Sebagai respons yang proaktif terhadap krisis energi global, kami akan menerapkan sejumlah langkah penghematan energi di seluruh negara,” ungkapnya dalam acara Briefing Krisis Energi Global, yang dilansir dari Malay Mail pada 3 April 2026.
Selain dari pengaturan suhu AC, pemerintah juga mendorong pegawai negeri untuk mengenakan pakaian yang lebih sesuai dengan cuaca setempat, seperti batik, kemeja korporat, atau baju Melayu, guna mengurangi ketergantungan pada pendingin ruangan.
Fadillah menegaskan bahwa kebijakan ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam memimpin penggunaan energi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Sebelumnya, Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengumumkan penerapan kebijakan kerja dari rumah (WFH) bagi sektor publik dan perusahaan yang berhubungan dengan pemerintah, yang akan mulai berlaku pada 15 April. Kebijakan ini diambil dalam rapat kabinet untuk mengurangi konsumsi bahan bakar sekaligus menjaga keberlangsungan pasokan energi nasional.
Fadillah menyatakan bahwa Malaysia saat ini berada dalam kondisi yang stabil, namun tetap harus bersiap menghadapi konsekuensi dari krisis energi global yang disebabkan oleh konflik di wilayah Asia Barat.
“Kami kini berada dalam fase yang menantang di tengah dinamika ekonomi global. Krisis energi yang tengah berlangsung, dipicu oleh ketegangan di Asia Barat, telah berdampak langsung terhadap pasokan dan harga energi di seluruh dunia,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa gangguan pada jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz telah meningkatkan ketidakpastian dalam pasar energi dan menyebabkan lonjakan harga.
Sebagai negara dengan ekonomi terbuka, Malaysia tidak dapat terhindar dari dampak tersebut. “Kami harus tetap waspada dan mengambil langkah-langkah pencegahan jika situasi krisis ini berlanjut,” tuturnya.
➡️ Baca Juga: Tarif Tol Batang-Semarang Meningkat Menjelang Mudik Lebaran, Berikut Rincian Lengkapnya
➡️ Baca Juga: Review Gadget Singkat Laptop Second Layak untuk Produktivitas




